Selasa, 01 Maret 2011

KERAJAAN SIAK

KERAJAAN SIAK

Kerajaan Siak Sri Indrapura berdiri pada tahun 1729 M yang didirikan oleh Raja Kecik yang bergelar Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah, putera Raja Johor (Sultan Mahmud Syah) dari istrinya yang bernama Encik Pong. Dengan pusat kerajaan berada di Buantan.

Konon nama Siak berasal dari nama sejenis tumbuh-tumbuhan yaitu siak-siak yang banyak terdapat didaerah ini dulunya. Selama lebih dari 20 tahun pemerintahan di Buantan Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah yang di Pertuan Agung Raja Kecik, telah menempatkan dasar dari sebuah kerajaan yang kelak akan berkembang di bawah pemerintahan keturunannya. Hubungan perdagangan diatur dengan baik sehingga negeri yang baru itu berkembang dengan cepat dan dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari Pesisir Timur Sumatera.

Disamping itu Sultan menjadikan Agama Islam sebagai agama kerajaan yagn bermazhab Syafei, seluruh tata adat diatur menurut Hukum Syarak. Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah memiliki tiga orang putera yaitu:

1. Tengku Alam yang bergelar yang di Pertuan Muda
2. Tengku Tengah (wafat sebelum dewasa)
3. Tengku Buang Asmara bergelar Tengku Mahkota

Diakhir hayatnya, meletus perang saudara yang mana kedua puteranya berselisih fham. Hal ini menyebabkan Tengku Alam yang di Pertuan Muda akhirnya meninggalkan Buantan. Sultan Abdul Jalil Rakhmat Syah mangkat pada tahun 1746 M dan diberi gelar Marhum Buantan.

Pemerintahan Kerajaan Siak dilanjutkan oleh Tengku Buang Asmara, Tengku Mahkota bergelar Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah (1746-1765 M). sekitar Tahun 1750 M, Sultan memindahkan Ibu Kota kerajaan ke Hulu negeri Buantan pada sebuah tempat bernama Mempura yang terletak pada sebuah anak sungai bernama Sungai Mempura Besar.

Setelah memerintah selama kurang lebih 19 Tahun dan setelah Kerajaan Siak kukuh, pada Tahun 1765 M beliau mangkat dan diberi gelar Marhum Mempura Besar.

Pada masa Sultan ke IX, pemerintahan Kerajaan Siak dipimpin oleh Said Ismail dengan gelar Sultan Assyaidis Syarif Ismail Abdul Jalil Jalaluddin (1827-1864 M). beliau adalah menantu dari Sultan Said Ali. Pada masa beliau pusat Kerajaan Siak di pindahkan ke kota Siak Sri Indrapura dan ditandatanganinya “TRAKTAT SIAK” dengan Hindia Belanda yang berisi bahwa Kerajaan Siak takluk pada Belanda. Beliau mangkat dan diberi gelar Marhun Indrapura.

Selanjutnya Sultan Assyaidis Syarif kasyim Abdul Jalil Saifuddin (1864-1889 M) yang memegang tampuk kekuasaan Kerajaan Siak. Pada masa Beliau, mahkota Kerajaan Siak dibuat. Sehingga pada saat Beliau wafat diberi gelar Marhum Mahkota.

Pada masa Sultan ke XI yaitu Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin yang memerintah pada tahun 1889-1908 M dibangunlah Istana yang megah dan indah yang terletak di kota Siak. Istana ini dibagun pada tahun 1889 M Oleh seorang Arsitek Jerman yang bernama VANDE MORTE. Istana ini bernama ASSERAYYAH AL HASYIMIAH.

Beliau juga mendirikan Balai Kerapatan Tinggi atau Balairung Sri yang dijadikan ruang kerja Sultan, Aparatur Pemerintahan serta tempat Penobatan dan Mahkamah Pengadilan. Pada masa pemerintah Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin, Siak mengalami kemajuan yang sangat pesat terutama dibidang ekonomi dan dimasa inilah Beliau berkesempatan melakukan lawatan ke Eropa yaitu Jerman dan Belanda. Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin mangkat pada Tahun 1908 M di Singapura dan jenazah nya di bawa ke Siak kemudian dimakamkan di Komplek Pemakamam Koto Tinggi.

Setelah Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin wafat, Beliau digantikan oleh Puteranya yang masih kecil dan sedang bersekolah di Batavia (Jakarta) yaitu Tengku Sulung Syarif Kasim dan baru pada Tahun 1915 Beliau ditabalkan sebagai Sultan Siak Ke XII dengan gelar Assyaidis Syarif Kasim Abdul Jalil Syaifuddin dan terkahir terkenal dengan nama Sultan Syarif Kasim Tsani (Sultan Syarif kasim II).

Bersamaan dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Republik Indonesia, Beliaupun mengibarkan Bendera Merah Putih di Istana Siak dan tak lama kemudian Beliau berangkat ke Jawa untuk menemui Bung Karno dan menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia sambil menyerahkan Mahkota Kerajaan serta uang sebesar Sepuluh Ribu Gulden. Sejak itu Beliau meninggalkan Siak dan bermukim di Jakarta. Baru pada Tahun 1960 M Kembali ke Siak dan mangkat di Rumbai pada Tahun 1968 M. Beliau tidak meninggalkan keturunan baik dari Permaisuri Pertama Tengku Agung maupun dari Permaisuri kedua Tengku Maharatu.

Created by Ecy Novemirata

Dari berbagai sumber
Diposkan oleh Ecy Novemirata di 8/06/2009 06:34:00

Tidak ada komentar:

Posting Komentar