Transportasi

Untuk mencapai Siak Sri Indrapura dapat ditempuh melalui sungai/laut menggunakan jenis Kapal Ferry dari Pekanbaru, Bengkalis, Selat Panjang, Batam dan Tanjung Pinang.
Melalui jalan darat, dapat menggunakan alat transportasi seperti bus, mini bus (travel) atau kendaraan pribadi dengan rute :
• Pekanbaru - Perawang - Siak Sri Indrapura
• Pekanbaru - Kerinci kanan - Simpang Lago - Siak
• Pelabuhan Tanjung Buton - Siak.
Perhubungan Darat
Jalan raya merupakan urat nadi kelancaran lalu lintas dan akan sangat menunjang perkembangan perekonomian suatu daerah. Hasil inventarisasi jalan perhubungan darat Kabupaten Siak pada tahun 2000 tercatat jalan Nasional 41,08 Km, jalan Propinsi 182,92 Km, dan Jalan Kabupaten 1.425,06 km.
Untuk meningakatkan kemudahan akses darat antar daerah di wilayah Siak yang terpisah sungai dibangun :
• Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah di kota Siak Sri Indrapura.
• Jembatan Sungai Mandau di Kecamatan Sungai Mandau
Untuk meningkatkan aksebilitas direncanakan akan dibangun terminal type B yang melayani kendaraan umum angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan antar kota dalam Propinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan di kota Tanjung Buton, Siak Sri Indrapura, Minas dan terminal untuk melayani angkutan perdesaan di Perawang dan Sungai Apit. Disamping itu, Pemkab Siak akan memprioritaskan peningkatan kualitas jalan, dan pembuatan jalan baru untuk akses kedaerah-daerah. Bagi pengusaha di sektor transportasi terbuka peluang pembukaan trayek-trayek baru ke/dari Siak Sri Indrapura.
Perhubungan Sungai dan Laut
Sebagian besar masyarakat Siak tinggal di sepanjang tepian Sungai Siak sehingga lalulintas sungai menjadi modal transportasi utama. Sungai Siak merupakan salah satu sungai
Jalan raya merupakan urat nadi kelancaran lalu lintas dan akan sangat menunjang perkembangan perekonomian suatu daerah. Hasil inventarisasi jalan perhubungan darat Kabupaten Siak pada tahun 2000 tercatat jalan Nasional 41,08 Km, jalan Propinsi 182,92 Km, dan Jalan Kabupaten 1.425,06 km. Untuk meningakatkan kemudahan akses darat antar daerah di wilayah Siak yang terpisah sungai dibangun :
• Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah di kota Siak Sri Indrapura.
• Jembatan Sungai Mandau di Kecamatan Sungai Mandau.
Untuk meningkatkan aksebilitas direncanakan akan dibangun terminal type B yang melayani kendaraan umum angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan antar kota dalam Propinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan di kota Tanjung Buton, Siak Sri Indrapura, Minas dan terminal untuk melayani angkutan perdesaan di Perawang dan Sungai Apit. Disamping itu, Pemkab Siak akan memprioritaskan peningkatan kualitas jalan, dan pembuatan jalan baru untuk akses kedaerah-daerah. Bagi pengusaha di sektor transportasi terbuka peluang pembukaan trayek-trayek baru ke/dari Siak Sri Indrapura.
Istana Siak
Istana Kerajaan Siak adalah sebuah kerajaan Melayu Islam yang terbesar di Daerah Riau.
Kerajaan ini mencapai masa jayanya pada abad ke 16 sampai abad ke 20. Menurut sejarah, ada 12 sultan yang pernah bertahta di kerajaan tersebut. Kini sisa peninggalan bersejarah ini masih bisa dinikmati di daerah Riau, yaitu berupa sebuah istana yang dibangun oleh Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin pada tahun 1889. Istana tersebut diberinama ASSIRAYATUL HASYIMIAH yang di dalamnya masih dapat dilihat barang-barang kerajaan yang menjadi koleksi bersejarah.
Sejak Sultan Syarif Hasyim dinobatkan menjadi raja pada tahun 1889, beliau mulai membangun istana kerajaan dan istana peraduan yang selesai pada tahun 1893. Istana dibangun untuk kepentingan jalannya pemerintahan Kerajaan Siak Sri Indrapura.
Istana Asserayyah Al Hasyimiah, singkatnya disebut Istana Sultan Siak, dalam kepariwisataan disebut "Istana Matahari Timur". Istana Sultan Siak berbentuk arsitektur gaya Eropa, Spanyol, dan Arab dengan perpaduan Melayu tradisional. Dinding istana dihiasi dengan keramik dari Eropa. Bangunan istana terdiri dari dua lantai, pada lantai dasar terdapat 5 ruangan besar utama yang dipergunakan untuk :
Ruangan depan istana
merupakan ruang tunggu para tamu, di dalamnya terdapat 2 bagian ruang, untuk para tamu terhormat disebut ruangan Kursi Gading, berkain gordin warna hijau lumut khusus untuk tamu kaum laki-laki; dan satu ruang terhormat berikutnya untuk kaum perempuan.
Ruangan di sisi kanan
adalah Ruang Sidang kerajaan dan sekaligus digunakan sebagai ruang pesta.
Ruangan di sisi kiri
adalah upacara adat kerajaan melayu dipergunakan untuk pelantikan, perwakilan, upacara menjunjung duli dan upacara hari-hari besar keagamaan.
Ruangan belakang
adalah sebuah ruang keperluan persiapan perjamuan makan untuk santapan para tamu dan raja-raja serta pembesar kerajaan. Pada ruangan ini terdapat tangga besi spiral indah buatan Jerman untuk tangga naik ke lantai atas. Pada ruang belakang ini terdapat pelantar (koridor) sepanjang 500 meter berbentuk huruf " T ", dipergunakan untuk jamuan makan bagi rakyat umum.
Di lantai atas istana Sultan Siak ini terdapat 4 ruangan berbentuk kamar/bilik dan 2 ruangan berbentuk aula selasar yang dipergunakan untuk tempat istirahat para tamu, serta bagian depan terdapat pelantaran atau tempat peranginan yang menghadap ke taman bunga Panca Wisada dan Sungai Siak. Pada pintu gerbang istana terdapat patung burung elang menyambar dari perunggu, pada 4 buah pilar istana di ujung puncaknya terdapat patung burung elang menyambar. Burung elang merupakan tanda kebesaran dan keberanian serta kemegahan Kerajaan Siak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar